Gerak Muhammadiyah pada awal berdirinya sungguh amat
terbatas, yaitu masih di Kauman Yogyakarta
sampai tahun 1917. Setelah
mendapat kesempatan untuk
memperluas ruang geraknya, maka
Muhammadiyah mulai menjangkau daerah-daerah sekitarnya yang sebelumnya sudah
mengidamkan keberadaannya.
Seperti kita ketahui, bahwa sudah menjadi kebiasaan KH.
Ahmad Dahlan bertabligh sambil
berdagang batik. Demikian pula pada waktu keliling di Jawa Timur ternyata di kota-kota yang
didatangi mendapat sambutan yang baik, sebab sebagian besar pedagang batik juga berasal dari
Yogyakarta, Misalnya di Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Pasuruan, Jember dan
Banyuwangi. Para pedagang batik yang berasal dari Yogyakarta banyak yang tertarik pada figur
KH. Ahmad Dahlan dalam berdagang, yang akhirnya tertarik juga pada tabligh-tabligh yang
diadakannya. Mereka-mereka inilah yang kemudian merintis berdirinya Muhammadiyah di
tempat-tempat tersebut. Misalnya, Ranting Sumberpucung didirikan oleh keluarga Mataram
(sebutan untuk orang Yogyakarta yang bertempat tinggal di Sumberpucung). Juga di Kepanjen,
Ponorogo, Blitar dan sebagainya. Sedang di tempat-tempat lain, mereka bergerak untuk
mendirikan Muhammadiyah karena tertarik oleh cita-cita Muhammadiyah, yang dikenal sebagai
gerakan pembaharuan Islam, yang lebih menggunakan pola fikir atau pendekatan rasional
dalam memecahkan masalah keagamaan sepanjang dibenarkan oleh ajaran Islam.
berdagang batik. Demikian pula pada waktu keliling di Jawa Timur ternyata di kota-kota yang
didatangi mendapat sambutan yang baik, sebab sebagian besar pedagang batik juga berasal dari
Yogyakarta, Misalnya di Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Pasuruan, Jember dan
Banyuwangi. Para pedagang batik yang berasal dari Yogyakarta banyak yang tertarik pada figur
KH. Ahmad Dahlan dalam berdagang, yang akhirnya tertarik juga pada tabligh-tabligh yang
diadakannya. Mereka-mereka inilah yang kemudian merintis berdirinya Muhammadiyah di
tempat-tempat tersebut. Misalnya, Ranting Sumberpucung didirikan oleh keluarga Mataram
(sebutan untuk orang Yogyakarta yang bertempat tinggal di Sumberpucung). Juga di Kepanjen,
Ponorogo, Blitar dan sebagainya. Sedang di tempat-tempat lain, mereka bergerak untuk
mendirikan Muhammadiyah karena tertarik oleh cita-cita Muhammadiyah, yang dikenal sebagai
gerakan pembaharuan Islam, yang lebih menggunakan pola fikir atau pendekatan rasional
dalam memecahkan masalah keagamaan sepanjang dibenarkan oleh ajaran Islam.
Tetap lestari
dan berkembangnya gerakan
Muhammadiyah tidak terlepas
dari pendirian organisasi ini
untuk tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis di Indonesia. Kegiatan politik
praktis merupakan godaan berat selama perjalanan sejarah Muhammadiyah. Sikap
tegas Muhammadiyah itulah agaknya menjadikan Muhammadiyah seperti tanaman yang
subur dan dapat berkembang besar menyebar di Indonesia.
Pada tanggal 1 November 1921 Muhammadiyah berdiri di
Surabaya dengan status cabang, diketuai oleh H. Mas Mansur dibantu oleh K.
Usman, H. Ashari Rawi, dan H. Ismail. Di antaranya dari Surabaya inilah
Muhammadiyah berpengaruh hingga ke Kudus.
Masuk dan tersebarnya Muhammadiyah di kudus nampaknya bisa
dipastikan berpangkal dari dua arah, yaitu timur dan selatan. Dari jalur timur berpangkal dari
malang, surabaya sementara dari jalur selatan berpangkal dari kota Jogyakarta.
Proses menyebarnya pengaruh kebanyakan dibawa oleh kaum pedagang, mubaligh
Muhammadiyah di Kudus salah seorang pedagang adalah H. Djamhari putra Dasiman
adalah seorang pedagang batik yang sering mengambil barang dagangannya ke
Yogyakarta.
Tidaklah mengherankan kalau Muhammadiyah di awal
penyebarannya lebih nampak sebagai gerakan
kaum kelas menengah
dari pada sebagai
organisasi keagamaan yang
lazimnya didominasi oleh kaum santri. Catatan sejarah Muhammadiyah
mencatat bahwa pada tahun 1916, sekitar 47 %
anggota Muhammadiyah berasal
dari kalangan saudagar/wiraswastawan mengungguli kalangan
pegawai/pamongpraja maupun ulama dan profesi lainnya.
Interaksi antara para pedagang ini biasanya kemudian
ditindaklanjuti dengan kegigihan para
ulama dan mubaligh. Demikian juga yang terjadi di Kudus. Selain ditunjang oleh para pedagang
yang banyak berkorban dengan harta kekayaannya, Pengaruh para ulama dalam menanamkan
pemahaman keagamaan pun tidak kalah besar pengaruhnya. Diantara mereka tercatat nama nama
……………………………. sebagai corong terdepan penyebaran Muhammadiyah di Kudus.
ulama dan mubaligh. Demikian juga yang terjadi di Kudus. Selain ditunjang oleh para pedagang
yang banyak berkorban dengan harta kekayaannya, Pengaruh para ulama dalam menanamkan
pemahaman keagamaan pun tidak kalah besar pengaruhnya. Diantara mereka tercatat nama nama
……………………………. sebagai corong terdepan penyebaran Muhammadiyah di Kudus.
Muhammadiyah di kota Kudus secara resmi berdiri pada
tanggal ……. dengan Surat Ketetapan
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta nomor ….. sebagai Pimpinan Muhammadiyah
Cabang (PMC) Kudus. Tercatat beberapa nama sebagai perintis pendirian Muhammadiyah di
kota Kudus adalah ……… yang telah mengusahakan pendiriannya sejak awal tahun …..
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta nomor ….. sebagai Pimpinan Muhammadiyah
Cabang (PMC) Kudus. Tercatat beberapa nama sebagai perintis pendirian Muhammadiyah di
kota Kudus adalah ……… yang telah mengusahakan pendiriannya sejak awal tahun …..
Meskipun tahun resmi berdirinya cabang Muhammadiyah Kudus
baru tercatat pada tahun …..,
namun dapat dipastikan kalau ajaran dan pemahaman keagamaan sebagaimana paham agama
yang dikembangkan oleh K.H.Ahmad Dahlan telah terpatri di sebagian kecil penduduk kota
Kudus beberapa tahun sebelumnya, hal ini dapat dipahami mengingat beberapa hal seperti :
namun dapat dipastikan kalau ajaran dan pemahaman keagamaan sebagaimana paham agama
yang dikembangkan oleh K.H.Ahmad Dahlan telah terpatri di sebagian kecil penduduk kota
Kudus beberapa tahun sebelumnya, hal ini dapat dipahami mengingat beberapa hal seperti :
1. Di Kudus telah
berdiri sebuah SD Muhammadiyah pada tahun 1926
Layaknya institusi pendidikan pada umumnya, SD Muhammadiyah 1 Kudus terlahir dari rahim Muhammadiyah di Kabupaten Kudus. Dengan semangat keikhlasan dan kedermawanan, para tokoh Muhammadiyah Kudus pada saat itu yang di motori oleh pemuda, untuk mencari kebenaran dengan melihat kondisi masyarakat yang jauh dari ajaran islam dan peradaban budaya.
Pemuda yang berjiwa bersih tersebut berkunjung ke rumah
Bapak K.H.R Asnawi. Mereka
memohon fatwa dari Bapak K.H.R Asnawi untuk dapat belajar agama yang benar. Lantas
Bapak K.H.R Asnawi memberikan saran, supaya mereka belajar agama yang lurus di kota
Yogyakarta. Dengan izin Allah, mereka bertemu dengan seorang alim yang bernama K.H.
AHMAD DAHLAN.
memohon fatwa dari Bapak K.H.R Asnawi untuk dapat belajar agama yang benar. Lantas
Bapak K.H.R Asnawi memberikan saran, supaya mereka belajar agama yang lurus di kota
Yogyakarta. Dengan izin Allah, mereka bertemu dengan seorang alim yang bernama K.H.
AHMAD DAHLAN.
Selesainya mereka belajar bersama K.H. Ahmad Dahlan , mereka
pulang dan mencoba mengamalkan Islam
dengan benar melalui wadah yang bernama Muhammadiyah, sehingga saat itu, mereka
yang beramal dengan baik, harus mendapat julukan - julukan yang aneh, misalnya adalah Wahabi.
Menurut informasi yang kami dapatkan, para pemuda saat itu
tidaklah banyak dan bisa di hitung dengan jari. Para pemuda tersebut antara lain adalah H. Abdul Qodir (pemberi wakaf tanah ), H. M. Mashadi (Pengurus bagian pendidikan), Meneer Sajid (Kepala Sekolah I), Meneer Kailan (Kepala Sekolah II) dan lainnya yang belum bisa kami
sertakan.
Demi membangun suasana budaya pendidikan dan mental serta membentengi aqidah umat, tokoh-tokoh Muhammadiyah kabupaten Kudus saat itu bertekad untuk meningkatkan taraf berfikir masyarakat Kudus
khususnya dan bangsa
Indonesia pada umumnya,
ingin mewujudkan masyarakat yang Baldatun
Thoyyibatun Wa Robbun
Ghofur serta meningkatkan keimanan untuk melawan imperialisme dan pengusung pemurtadan. Oleh karena itu dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan disertai tekad yang bulat
serta hati yang ikhlas, munculah sebuah ide cemerlang
untuk mendirikan sebuah sekolah dasar. Sehingga
bersamaan dengan para pembawa dakwahnya, maka sekolah yang tarafnya dasar tersebut disebut sekolah dasar Muhammadiyah. Karena sekolah tersebut mencoba menerapkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Qur’an, maka sekolah Muhammadiyah saat itu keren dengan sebutan sekolah rakyat (masa penjajahan Belanda) dengan bahasa Belanda Holland Island School (H.I.S) Muchammadijah Meet den Qur’an.
bersamaan dengan para pembawa dakwahnya, maka sekolah yang tarafnya dasar tersebut disebut sekolah dasar Muhammadiyah. Karena sekolah tersebut mencoba menerapkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Qur’an, maka sekolah Muhammadiyah saat itu keren dengan sebutan sekolah rakyat (masa penjajahan Belanda) dengan bahasa Belanda Holland Island School (H.I.S) Muchammadijah Meet den Qur’an.
Pada tahun 1920-an proses pendidikan di sekolah ini sudah
berjalan dengan baik walaupun
kurang begitu memadahi. Sebagai tempat tempaan angkatan pertama di laksanakan proses
belajar mengajar di daerah jalan Kiyai Telingsing ( dulu Jalan Sunggingan) yang tepatnya
sekarang di Apotek MENARA. Hal ini di lakukan karena saat itu belum memiliki gedung
kurang begitu memadahi. Sebagai tempat tempaan angkatan pertama di laksanakan proses
belajar mengajar di daerah jalan Kiyai Telingsing ( dulu Jalan Sunggingan) yang tepatnya
sekarang di Apotek MENARA. Hal ini di lakukan karena saat itu belum memiliki gedung
yang memadai. Dan
saat itu di jalan Kiyai Telingsing sekaligus dijadikan sebagai pusat kegiatan
Muhammadiyah kabupaten Kudus.
Pendirian H.I.S Muchammadijah Meet den Qur’an saat itu cukup mengerutkan kepala, karena disamping mendapat tekanan dari pemerintah penjajah Belanda juga mendapat tekanan dari saudara kaum muslimin sendiri. Dengan berbekal keikhlasan dan tekad yang kuat, maka Allah dapat memampukan dan merealisasikan bangunan SD Muhammadiyah yang pertama kali di Kudus ini cukup megah.
Adapun bentuk pembangunan sekolah ini dengan bentuk infak bersama . infak mereka bentuknya
beraneka ragam, yaitu dengan barang-barang yang dimampui dan dimiliki. Diantaranya
adalah salah ada yang berinfak tanah dalam bentuk wakaf, kayu, batu bata, keramik,
genteng, bambu, dan lain - lain. Alhamdulillah, bangunan yang kokoh itu sekarang
masih dapat kita lihat dan kita nikmati sampai sekarang ini.
Bangunan yang megah tersebut, dapat kita saksikan pada
gambar yang diabadikan dalam
bentuk foto. Foto ini kami dapatkan dari kenang - kenangan salah satu alumni SD
Muhammadiyah angkatan awal, yaitu keluarga Bapak M. Soemaji . Dari hasil temuan
bersejarah tersebut dapat kita lihat bahwa, bangunan SD Muhammadiyah Kudus saat itu
sudah berdiri megah. Bangunan yang di maksud adalah bangunan SD Muhammdiyah yang
terletak di sebelah utara. Gambar foto yang terpampang menunjukkan tulisan tahun 1926
bentuk foto. Foto ini kami dapatkan dari kenang - kenangan salah satu alumni SD
Muhammadiyah angkatan awal, yaitu keluarga Bapak M. Soemaji . Dari hasil temuan
bersejarah tersebut dapat kita lihat bahwa, bangunan SD Muhammadiyah Kudus saat itu
sudah berdiri megah. Bangunan yang di maksud adalah bangunan SD Muhammdiyah yang
terletak di sebelah utara. Gambar foto yang terpampang menunjukkan tulisan tahun 1926
M. Sehingga, bangunan
yang satu ini merupakan salah satu bangunan di kabupaten Kudus yang mendapatkan
lisensi dari pemerintah sebagai bangunan tua dan bersejarah yang perlu di abadikan.
Maka bangunan SD
Muhammadiyah yang pertama,
di jadikan sebagai bangunan “cagar budaya”.
Walaupun dalam proses
perawatannya belum mendapat usapan (bantuan ) dari pemerintah.
Bangsa Indonesia yang dulunya jajahan Belanda dan kemudian
digantikan oleh penjajah
Jepang, maka sebagai sekolah yang saat itu mengikuti suhu politik setempat, sehingga pada
masa penjajahan Jepang tersebut sekolah yang tercinta ini harus menyesuaikan dengan
Jepang, maka sebagai sekolah yang saat itu mengikuti suhu politik setempat, sehingga pada
masa penjajahan Jepang tersebut sekolah yang tercinta ini harus menyesuaikan dengan
model penjajah Jepang. Sekolah Dasar yang tercinta ini harus
meminta izin kembali kepada
Pertama kali sekolah
ini di dirikan
adalah bermaksud sebagai sarana
dakwah
Muhammadiyah, sehingga tegak islam dengan cahaya terang. Sebagai sarana dakwah
Muhammadiyah, sekolah ini azas dakwahnya adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Maka
segala bentuk aspek yang di ajarkan adalah merupakan bentuk pengajaran yang mengajak
masyarakat kepada pengamalan Islam yang sempurna. Dengan izin Allah sekolah yang di
pelopori oleh pemuda,, masih dapat kita rasakan dan kita nikmati sampai sekarang ini.
Muhammadiyah, sehingga tegak islam dengan cahaya terang. Sebagai sarana dakwah
Muhammadiyah, sekolah ini azas dakwahnya adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Maka
segala bentuk aspek yang di ajarkan adalah merupakan bentuk pengajaran yang mengajak
masyarakat kepada pengamalan Islam yang sempurna. Dengan izin Allah sekolah yang di
pelopori oleh pemuda,, masih dapat kita rasakan dan kita nikmati sampai sekarang ini.
Demikianlah sekelumit sejarah berdirinya SD Muhammadiyah I
Kudus yang telah lama
terpendam, dan kini harus bangkit, maju serta berkata pada umat. Hanya do’a yang dapat
kami sampaikan wahai para pejuang islam yang telah lebih dahulu berusaha memancarkan
cahaya islam lewat sarana pendidikan, semoga amal yang telah engkau perbuat di masa
hidupmu mendapat ridho dari Allah sehingga dapat di catat sebagai amal Solih (Amin). Tak
lupa juga kami sampaikan do’a kepada para pemegang amanah kepala sekolah yang kini
telah beranjak dan usai dari amanah yang mulia ini, semoga amalnya di terima oleh Allah.
terpendam, dan kini harus bangkit, maju serta berkata pada umat. Hanya do’a yang dapat
kami sampaikan wahai para pejuang islam yang telah lebih dahulu berusaha memancarkan
cahaya islam lewat sarana pendidikan, semoga amal yang telah engkau perbuat di masa
hidupmu mendapat ridho dari Allah sehingga dapat di catat sebagai amal Solih (Amin). Tak
lupa juga kami sampaikan do’a kepada para pemegang amanah kepala sekolah yang kini
telah beranjak dan usai dari amanah yang mulia ini, semoga amalnya di terima oleh Allah.
2. Nama “………” pada
waktu itu adalah nama sebuah kelompok pengajian di Kudus yang
sebenarnya adalah nama lain untuk gerakan Muhammadiyah yang pada saat itu pergerakan
Muhammadiyah baru
terbatas di keresidenan
Yogyakarta sesuai dengan
izin yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda Nomor 81 tahun 1914. Sempitnya izin yang
diberikan, tidak mempersempit gerakan Muhammadiyah. Pada saat itu K. H. Ahmad Dahlan
menganjurkan agar gerakan Muhammadiyah di luar kota Yogyakarta menggunakan nama
lain seprti Nurul Islam di Pekalongan, Sidiq Amanah Tabligh Fathonah di Solo, al Munir di
Ujung Pandang dan lain - lain. Izin diperbolehkannya Muhammadiyah bergerak di luar
Yogyakarta sendiri baru keluar pada tanggal 2 September 1921.
sebenarnya adalah nama lain untuk gerakan Muhammadiyah yang pada saat itu pergerakan
dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda Nomor 81 tahun 1914. Sempitnya izin yang
diberikan, tidak mempersempit gerakan Muhammadiyah. Pada saat itu K. H. Ahmad Dahlan
menganjurkan agar gerakan Muhammadiyah di luar kota Yogyakarta menggunakan nama
lain seprti Nurul Islam di Pekalongan, Sidiq Amanah Tabligh Fathonah di Solo, al Munir di
Ujung Pandang dan lain - lain. Izin diperbolehkannya Muhammadiyah bergerak di luar
Yogyakarta sendiri baru keluar pada tanggal 2 September 1921.
Memasuki jaman Pendudukan Jepang, sebagaimana umumnya
gerakan lain yang ada di tengah masyarakat, nampaknya Muhammadiyah pun
sedikitnya mendapat hambatan yang cukup berarti yang menyebabkan aktivitas
Muhammadiyah tidak begitu menonjol kalau tidak
dikatakan mengalami kevakuman. Keadaan seperti ini terus berlanjut karena segenap penduduk kemudian disibukkan
dengan upaya Belanda untuk kembali menduduki Indonesia melalui Agresi Militer. Keadaan
dapat dikatakan pulih ketika memasuki tahun 1950.










Posting Komentar