Home » » SEJARAH PROSES MASUKNYA MUHAMMADIYAH KE KUDUS

SEJARAH PROSES MASUKNYA MUHAMMADIYAH KE KUDUS

Written By KHAIRIL ALKUDUS on Kamis, 12 Juni 2014 | 13.54




Gerak Muhammadiyah pada awal berdirinya sungguh amat terbatas, yaitu masih di Kauman Yogyakarta  sampai  tahun 1917.  Setelah  mendapat  kesempatan  untuk  memperluas  ruang geraknya, maka Muhammadiyah mulai menjangkau daerah-daerah sekitarnya yang sebelumnya sudah mengidamkan keberadaannya.
Seperti kita ketahui, bahwa sudah menjadi kebiasaan KH. Ahmad Dahlan bertabligh sambil
berdagang batik. Demikian pula pada waktu keliling di Jawa Timur ternyata di kota-kota yang
didatangi mendapat sambutan yang baik, sebab sebagian besar pedagang batik juga berasal dari
Yogyakarta, Misalnya di Ponorogo, Blitar, Sumberpucung, Kepanjen, Pasuruan, Jember dan
Banyuwangi. Para pedagang batik yang berasal dari Yogyakarta banyak yang tertarik pada figur
KH. Ahmad Dahlan dalam berdagang, yang akhirnya tertarik juga pada tabligh-tabligh yang
diadakannya. Mereka-mereka inilah yang kemudian merintis berdirinya Muhammadiyah di
tempat-tempat tersebut. Misalnya, Ranting Sumberpucung didirikan oleh keluarga Mataram
(sebutan untuk orang Yogyakarta yang bertempat tinggal di Sumberpucung). Juga di Kepanjen,
Ponorogo,  Blitar  dan  sebagainya.  Sedang  di  tempat-tempat  lain,  mereka  bergerak  untuk
mendirikan Muhammadiyah karena tertarik oleh cita-cita Muhammadiyah, yang dikenal sebagai
gerakan pembaharuan Islam, yang lebih menggunakan pola fikir atau pendekatan rasional
dalam memecahkan masalah keagamaan sepanjang dibenarkan oleh ajaran Islam.

Tetap  lestari  dan  berkembangnya  gerakan  Muhammadiyah  tidak  terlepas  dari  pendirian organisasi ini untuk tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis di Indonesia. Kegiatan politik praktis merupakan godaan berat selama perjalanan sejarah Muhammadiyah. Sikap tegas Muhammadiyah itulah agaknya menjadikan Muhammadiyah seperti tanaman yang subur dan dapat berkembang besar menyebar di Indonesia.
Pada tanggal 1 November 1921 Muhammadiyah berdiri di Surabaya dengan status cabang, diketuai oleh H. Mas Mansur dibantu oleh K. Usman, H. Ashari Rawi, dan H. Ismail. Di antaranya dari Surabaya inilah Muhammadiyah berpengaruh hingga ke Kudus.
Masuk dan tersebarnya Muhammadiyah di kudus nampaknya bisa dipastikan berpangkal dari dua arah, yaitu timur  dan selatan. Dari jalur timur berpangkal dari malang, surabaya sementara dari jalur selatan berpangkal dari kota Jogyakarta. Proses menyebarnya pengaruh kebanyakan dibawa oleh kaum pedagang, mubaligh Muhammadiyah di Kudus salah seorang pedagang adalah H. Djamhari putra Dasiman adalah seorang pedagang batik yang sering mengambil barang dagangannya ke Yogyakarta.
Tidaklah mengherankan kalau Muhammadiyah di awal penyebarannya lebih nampak sebagai gerakan  kaum  kelas  menengah  dari  pada  sebagai  organisasi  keagamaan  yang  lazimnya didominasi oleh kaum santri. Catatan sejarah Muhammadiyah mencatat bahwa pada tahun 1916, sekitar 47 %  anggota  Muhammadiyah  berasal  dari  kalangan  saudagar/wiraswastawan mengungguli kalangan pegawai/pamongpraja maupun ulama dan profesi lainnya.
Interaksi antara para pedagang ini biasanya kemudian ditindaklanjuti dengan kegigihan para
ulama dan mubaligh. Demikian juga yang terjadi di Kudus. Selain ditunjang oleh para pedagang
yang banyak berkorban dengan harta kekayaannya, Pengaruh para ulama dalam menanamkan
pemahaman keagamaan pun tidak kalah besar pengaruhnya. Diantara mereka tercatat nama nama
……………………………. sebagai corong terdepan penyebaran Muhammadiyah di Kudus.
Muhammadiyah di kota Kudus secara resmi berdiri pada tanggal  ……. dengan Surat Ketetapan
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta nomor ….. sebagai Pimpinan Muhammadiyah
Cabang (PMC) Kudus. Tercatat beberapa nama sebagai perintis pendirian Muhammadiyah di
kota Kudus adalah ……… yang telah mengusahakan pendiriannya sejak awal tahun …..
Meskipun tahun resmi berdirinya cabang Muhammadiyah Kudus baru tercatat pada tahun …..,
namun dapat dipastikan kalau ajaran dan pemahaman keagamaan sebagaimana paham agama
yang dikembangkan oleh K.H.Ahmad Dahlan telah terpatri di sebagian kecil penduduk kota
Kudus beberapa tahun sebelumnya, hal ini dapat dipahami mengingat beberapa hal seperti :

1.   Di Kudus telah berdiri sebuah SD Muhammadiyah pada tahun 1926

Layaknya institusi pendidikan pada umumnya, SD Muhammadiyah 1 Kudus terlahir dari rahim   Muhammadiyah   di   Kabupaten   Kudus.   Dengan   semangat   keikhlasan   dan kedermawanan, para tokoh Muhammadiyah Kudus pada saat itu yang di motori oleh pemuda, untuk mencari kebenaran dengan melihat kondisi masyarakat yang jauh dari ajaran islam dan peradaban budaya.
Pemuda yang berjiwa bersih tersebut berkunjung ke rumah Bapak K.H.R  Asnawi. Mereka
memohon fatwa dari Bapak K.H.R  Asnawi untuk dapat belajar agama yang benar. Lantas
Bapak K.H.R  Asnawi memberikan saran, supaya mereka belajar agama yang lurus di kota
Yogyakarta. Dengan izin Allah, mereka bertemu dengan seorang alim yang bernama K.H.
AHMAD DAHLAN.

Selesainya mereka belajar bersama K.H. Ahmad Dahlan , mereka pulang dan  mencoba mengamalkan Islam dengan benar melalui wadah yang bernama Muhammadiyah, sehingga saat itu, mereka yang beramal dengan baik, harus mendapat julukan -  julukan yang aneh, misalnya adalah Wahabi.

Menurut informasi yang kami dapatkan, para pemuda saat itu tidaklah banyak dan bisa di hitung dengan jari. Para pemuda tersebut antara lain adalah    H. Abdul Qodir (pemberi wakaf tanah ), H. M. Mashadi (Pengurus bagian pendidikan), Meneer Sajid (Kepala Sekolah I), Meneer Kailan (Kepala Sekolah II) dan lainnya yang belum bisa kami sertakan.

Demi membangun suasana budaya pendidikan dan mental  serta membentengi aqidah umat, tokoh-tokoh Muhammadiyah kabupaten Kudus saat itu bertekad untuk meningkatkan taraf berfikir  masyarakat  Kudus  khususnya  dan  bangsa  Indonesia  pada  umumnya,  ingin mewujudkan  masyarakat  yang  Baldatun  Thoyyibatun  Wa  Robbun  Ghofur  serta meningkatkan keimanan untuk melawan imperialisme dan pengusung pemurtadan. Oleh karena itu dengan izin Allah yang Maha Kuasa dan disertai tekad yang bulat serta hati yang ikhlas, munculah sebuah ide cemerlang  untuk mendirikan sebuah sekolah dasar. Sehingga
bersamaan dengan para pembawa dakwahnya, maka sekolah yang tarafnya dasar tersebut disebut  sekolah  dasar   Muhammadiyah.  Karena  sekolah  tersebut  mencoba  menerapkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Qur’an, maka sekolah Muhammadiyah saat itu keren dengan sebutan sekolah rakyat (masa penjajahan Belanda) dengan bahasa Belanda Holland Island School (H.I.S) Muchammadijah Meet den Qur’an.

Pada tahun 1920-an proses pendidikan di sekolah ini sudah berjalan dengan baik walaupun
kurang begitu memadahi. Sebagai tempat tempaan angkatan pertama di laksanakan proses
belajar mengajar di daerah jalan Kiyai Telingsing ( dulu Jalan Sunggingan) yang tepatnya
sekarang di Apotek MENARA. Hal ini di lakukan karena saat itu belum memiliki gedung

yang memadai. Dan saat itu di jalan Kiyai Telingsing sekaligus dijadikan sebagai pusat kegiatan Muhammadiyah kabupaten Kudus.



Pendirian H.I.S  Muchammadijah Meet den Qur’an saat itu cukup mengerutkan kepala, karena disamping mendapat tekanan dari pemerintah penjajah Belanda juga mendapat tekanan dari saudara kaum muslimin sendiri.  Dengan berbekal keikhlasan dan tekad yang   kuat,    maka   Allah   dapat   memampukan   dan   merealisasikan   bangunan   SD Muhammadiyah yang pertama kali di Kudus ini cukup megah.

Adapun bentuk pembangunan sekolah ini dengan  bentuk infak bersama . infak mereka bentuknya beraneka ragam, yaitu dengan barang-barang yang dimampui dan dimiliki. Diantaranya adalah salah ada yang berinfak tanah dalam bentuk wakaf, kayu, batu bata, keramik, genteng, bambu, dan lain - lain. Alhamdulillah, bangunan yang kokoh itu sekarang masih dapat kita lihat dan kita nikmati sampai sekarang ini.

Bangunan yang megah tersebut, dapat kita saksikan pada gambar yang diabadikan dalam
bentuk foto. Foto ini kami dapatkan dari kenang - kenangan salah satu alumni  SD
Muhammadiyah angkatan awal, yaitu keluarga Bapak M. Soemaji . Dari hasil temuan
bersejarah tersebut dapat kita lihat bahwa, bangunan SD Muhammadiyah Kudus saat itu
sudah berdiri megah. Bangunan yang di maksud adalah   bangunan SD Muhammdiyah yang
terletak di sebelah utara. Gambar foto yang  terpampang menunjukkan tulisan tahun 1926
M. Sehingga,  bangunan yang satu ini merupakan salah satu bangunan di kabupaten Kudus yang mendapatkan lisensi dari pemerintah sebagai bangunan tua dan bersejarah yang perlu di  abadikan.  Maka  bangunan  SD  Muhammadiyah  yang  pertama,  di  jadikan  sebagai bangunan “cagar  budaya”.  Walaupun  dalam    proses  perawatannya  belum  mendapat usapan (bantuan ) dari pemerintah.
Bangsa Indonesia yang dulunya jajahan Belanda dan kemudian digantikan oleh penjajah
Jepang, maka sebagai sekolah yang saat itu mengikuti suhu politik setempat, sehingga pada
masa penjajahan Jepang tersebut sekolah yang tercinta ini harus menyesuaikan dengan
model penjajah Jepang. Sekolah Dasar yang tercinta ini harus meminta izin kembali kepada
pemerintah penjajah Jepang. Sebagai ganti nama dari H.I.S Muchammadijah Meet den Qur’an berubah menjadi sekolah rakyat (Kokumin Gakko). Hal ini dapat kita perhatikan surat izin resmi dari Pemerintah penjajah Jepang tertanggal 9 Nopember 2602 ( tahun Jepang) yang  bersesuaian tahun 1941 M.
Pertama   kali   sekolah   ini   di   dirikan   adalah   bermaksud   sebagai   sarana   dakwah
Muhammadiyah, sehingga tegak islam dengan cahaya terang. Sebagai sarana dakwah
Muhammadiyah, sekolah ini azas dakwahnya adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Maka
segala bentuk aspek yang di ajarkan adalah merupakan bentuk pengajaran yang mengajak
masyarakat kepada pengamalan Islam yang sempurna. Dengan izin Allah sekolah yang di
pelopori oleh pemuda,, masih dapat kita rasakan dan kita nikmati sampai sekarang ini.

Demikianlah sekelumit sejarah berdirinya SD Muhammadiyah I Kudus yang telah lama
terpendam, dan kini harus bangkit, maju serta berkata pada umat. Hanya do’a yang dapat
kami sampaikan wahai para pejuang islam yang telah lebih dahulu berusaha memancarkan
cahaya islam lewat sarana pendidikan, semoga amal yang telah engkau perbuat di masa
hidupmu mendapat ridho dari Allah sehingga dapat di catat sebagai amal Solih (Amin). Tak
lupa juga kami sampaikan do’a kepada para pemegang amanah kepala sekolah yang kini
telah beranjak dan usai dari amanah yang mulia ini, semoga amalnya di terima oleh Allah.

2.   Nama “………” pada waktu itu adalah nama sebuah kelompok pengajian di Kudus yang
            sebenarnya adalah nama lain untuk gerakan Muhammadiyah yang pada saat itu pergerakan
            Muhammadiyah  baru  terbatas  di  keresidenan  Yogyakarta  sesuai  dengan  izin  yang
            dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda Nomor 81 tahun 1914. Sempitnya izin yang
            diberikan, tidak mempersempit gerakan Muhammadiyah. Pada saat itu K. H. Ahmad Dahlan
            menganjurkan agar gerakan Muhammadiyah di luar kota Yogyakarta menggunakan nama
            lain seprti Nurul Islam di Pekalongan, Sidiq Amanah Tabligh Fathonah di Solo, al Munir di
            Ujung Pandang dan lain - lain. Izin diperbolehkannya Muhammadiyah bergerak di luar
            Yogyakarta sendiri baru keluar pada tanggal 2 September 1921.


Memasuki jaman Pendudukan Jepang, sebagaimana umumnya gerakan lain yang ada di tengah masyarakat, nampaknya Muhammadiyah pun sedikitnya mendapat hambatan yang cukup berarti yang menyebabkan aktivitas Muhammadiyah tidak begitu menonjol kalau tidak  dikatakan mengalami kevakuman. Keadaan seperti ini terus berlanjut  karena segenap penduduk kemudian disibukkan dengan upaya Belanda untuk kembali menduduki Indonesia melalui Agresi Militer. Keadaan dapat dikatakan pulih ketika memasuki tahun 1950. 
Share this article :

Posting Komentar