Home » » Penjelasan Muhammadiyah Soal Perlunya Beralih dari Metode Rukyah ke Hisab

Penjelasan Muhammadiyah Soal Perlunya Beralih dari Metode Rukyah ke Hisab

Written By KHAIRIL ALKUDUS on Senin, 30 Juni 2014 | 10.49


Metode penentuan awal Ramadan dan Syawal antara Muhammadiyah dan pemerintah bersama Nadhlatul Ulama (NU) dan ormas Islam lainnya sudah lama berbeda.

Muhammadiyah menentukan awal bulan hijriyah terutama Ramadan dan Syawal dengan metode hisab, sedangkan pemerintah menggunakan metode rukyah. Muhammadiyah menilai ada beberapa faktor yang bisa dijadikan pertimbangan untuk beralih dari rukyah ke hisab untuk penetapan jatuhnya waktu-waktu ibadah umat Islam di tempat lain yang jauh letaknya dengan semananjung Arabia.

Dalam keterangan tertulis 'Peralihan kepada Hisab adalah Pilihan yang Tidak Mungkin Ditawar Lagi dan Sah Adanya' milik Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diperoleh detikcom, Jumat (27/6/2014), seiring dengan penyebaran umat Islam di berbagai belahan bumi, penggunaan rukyah dianggap tidak lagi memadai bahkan menimbulkan problem dalam penepatan jatuhnya hari ibadah Islam. Hal ini dikarenakan rukyah lingkup visibilitasnya terbatas dan tidak meliputi seluruh permukaan bumi saat visibilitas pertama.

Mustahil seluruh muka bumi dapat mengalami rukyah pada hari pertama penampakan hilal. Sehingga tidak jarang terjadi perbedaan jatuhnya hari Arafah antara Makkah dan kawasan lain di dunia yang jauh dari Arab Saudi. Oleh karenanya, Ketua bidang Tarjih, Tajdid dan Pemikiran Islam Muhammadiyah Prof Dr Yunahar Ilyas menganggap metode hisab jauh lebih rasional dan matematis.

"Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Kalau ini kan basisnya observasi dilihat kalau kita eksistensi. Kalau sudah ada enggak perlu dilihat," ujar Yunahar di kantor Kementerian Agama, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (27/6/2014).

"Usul Muhammadiyah kalau mau disatukan harus beralih ke 1 hisab yang mana saja, enggak mungkin dengan rukyah," lanjut Yunahar.

Dia beralasan, rukyah tidak dapat memberikan kepastian jatuhnya awal bulan baru jauh hari sebelumnya. Hal ini bisa berakibat menimbulkan kekacauan pelaksanaan acara tertentu.

Selain itu, terdapat beberapa alasan mengapa pentingnya beralih dari rukyah kepada hisab dalam cara menentukan awal bulan Qamariah, yaitu:

1. Demi menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Makkah dan kawasan-kawasan bumi yang jauh agar dapat melaksanakan ibadah puasa sunat Arafah tepat pada momen sesungguhnya;

2. Demi mewujudkan adanya kalender Islam pemersatu dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia yang hanya bisa dibuat dengan berdasarkan hisab;

3. Agar kita dapat memastikan jatuhnya tanggal bulan Qamariah baru, khususnya Ramadan dan Syawal jauh hari sebelumnya, sehingga dapat merencanakan aktivitas dengan rapi.

Namun tak dapat dipungkiri, hingga kini sebagian besar umat Islam belum memahami realitas alam ini bahkan sebagian menganggap peralihan dari rukyah ke hisab itu berarti menyalahi sunnah Rasulullah SAW dan meninggalkan mazhab yang selama ini dipegang.

Meski demikian, Yunahar mengingatkan tetap perlu saling toleransi terhadap perbedaan ini. Terutama memasuki 1 Ramadan 1435 Hijriah ini, di mana Muhammadiyah telah menetapkan lebih dulu puasa Ramadan dimulai pada Sabtu (28/6).

"Tetap menjaga toleransi dan hormati teman-teman yang berpuasa lebih awal. (Besar harapan kami) bisa diteruskan dialog ilmu sehingga bisa dicapai 2 titik ini, sehingga enggak tahu kapan bisa ditemukan 2 metode yang memuaskan 2 kelompok," pungkasnya.

Sumber : www.detik.com
Share this article :

Posting Komentar