Home » » Sholat Berjamaah (Sebuah Filosofi Kepemimpinan) #01

Sholat Berjamaah (Sebuah Filosofi Kepemimpinan) #01

Written By KHAIRIL ALKUDUS on Jumat, 06 Juni 2014 | 13.27


Filosofi sholat berjamaan adalah membangun kehidupan bersama menuju keridhaan Allah SWT untuk mencapaikesejahteraan dunia dan akhirat. Kehidupan bersama tersebut dalam skalaterkecil adalah kehidupan rumah tangga, hingga kehidupan yang lebih besar yang berupakehidupan bernegara.
Dalam Shalat berjamaah tentu adaseorang yang menjadi Imam.  (Entah dengan pemilihan maupun denganpenetapan) Seorang Imam mesti memenuhi beberapa kriteria. Secara umum, orangyang harus dipilih jadi imam shalat adalah orang yang paling faqih dalam urusanagama.
Para ulama telah berhasil membuatperingkat yang paling berhak untuk menjadi imam dalam shalat. Misalnya dalammadzhab Al-Hanafiyah disebutkan peringkat itu yaitu:
1. Pemimpin (Imam) adalah Orang Yang Paling Baik Bacaannya
Rasulullah saw  dalam haditsbeliau mengisyaratkan kriteria seorang Imam :
  •  Dari Abi Mas’ud Al-Anshari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Yang menjadi imam shalat bagi manusia adalah yang paling baik bacaan kitabullahnya (Al-Quran Al-Karim). Bila mereka semua sama kemampuannya dalam membaca Al-Quran, maka yang paling banyak pengetahuannya terhadap sunnah” (HR. Jama’ah kecuali Bukhari)
  •  Dari Abu Masna Al-Badri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jama’ah di imami oleh yang lebih pandai membaca Kitab Allah. Jika sama-sama pandai dalam membaca Kitab Allah, maka oleh yang lebih alim tentang sunnah. Jika sama-sama pula, maka oleh yang lebih tua.” (HR. Muslim dan Abu Dawud.
Seorang Imam (lurah, bupati, …. presiden) merujukpada syarat Imam di atas adalah :
pertama, seorang yang mampu membaca suara dan kehendakmakmum/rakyat (suara rakyat = suara Tuhan)  danmengartikulasikannya dalam bentuk aktifitas nyata yang membawa makmum menuju keridhaanAllah (kebahagianan, kesejahteraan lahir-batin, dunia-akhirat).
Kedua, mempunyai kemampuan tehnis managerial dan inovatif sebagaiimam.
ketiga, adalah faktor senioritas yangmengidentifikasikan loyalitas dan dedikasi.
Namun,di era liberal dan kapitalis ini kretiria imam di atas hampir tidak lagiberlaku. Citra diri bisa direkayasa dan dimanipulasi. Bagi yang mampu membelimedia, maka media akan memasang topeng di wajah ‘sang calon imam’ dengan topengyang terbaik dan mampu menutupi jerawat-jerawat di wajahnya. Bahkan paraintelektual berlomba mendirikan lembaga survey, yang sebagian di antaranyatidak ubahnya seperti salon kecantikan yang mampu memoles dan mempercantikwajah si ‘calon imam’ menjadi lebih anggun (sessuai dengan tarif dan pesanan).Penglihatan dan pikiran makmum (rakyat) sudah dimanipulasi oleh politikpencitraan. Di era kapitalisme sekarang ini, idealisme  tersingkir berubahmenjadi pragmatisme. Suara rakyat bukan lagi Suara Tuhan, sebab rakyat(mungkin) sudah apatis dan suaranya bisa dibeli. Kapabilitas dan integritas tidak lagi menjadi acuan utama untuk memilih seorang imam.
Seorang ‘SATRIO PININGIT” yangsesungguhnya memenuhi kriteria sebagai seorang Imam, akan terus terpingit dan tidak mampu muncul di permukaan tanpa didukung oleh kekuatan finansial. Maka setelah sholat berlangsung….makmum kecewa dengan imam  yang ternyata bacaannya berlepotan dangerakannya tidak tuma’ninah… dan sholatnyapun tidak membawa pada ketenangandan kesejahteraan (lahir-batin). Bersambung (Insya Allah)
Oleh: H. Untung Santoso (Wakil Ketua PDM Gunungkidul)


sumber : mentarinews.co.id
Share this article :

Posting Komentar