Home » » Sholat Berjamaah (Sebuah Filosofi Kepemimpinan) #02

Sholat Berjamaah (Sebuah Filosofi Kepemimpinan) #02

Written By KHAIRIL ALKUDUS on Sabtu, 07 Juni 2014 | 13.35


2. Imam (Pemimpin) adalah Orang Yang Paling Wara’
Lalu peringkat berikutnya dari seorang Imam adalah orang yang paling wara’, yaituorang yang paling menjaga dirinya agar tidak jatuh dalam masalah syubhat(sesuatu yang meragukan antara halal dan haram)
  • Dari Abi Martsad Al-ghanawi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rahasia diterimanya shalat kamu adalah yang jadi imam (seharusnya) ulama di antara kalian. Karena para ulama itu merupakan wakil kalian kepada Tuhan kalian.” (HR. At-Thabrani dan Al-Hakim).
  • Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadikanlah orang-orang yang terpilih di antara kamu sebagai imam; karena mereka adalah orang-orang perantaraan kamu dengan Tuhanmu.” (HR. Ad-Daruqutni).
  • Apabila seseorang menjadi imam …, padahal di belakangnya ada orang-orang yang lebih utama daripadanya, maka semua mereka dalam kerendahan terus menerus.” (HR. Ahmad)
Rasulullahsaw, menggambarkan Kewara’an itu melalui haditsnya yang terkenal,
منحسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Salah satu tanda baiknyake-Islaman seseorang, apabila orang itu meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.”
Beliau juga melanjutkan,
كُنْوَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
“Jadilah dirimu orang yang Wara’, maka anda akanbenar-benar menjadi ahli ibadah.” (hr. Ibnu Majah)
Mestinya manusia modern memilikiketegasan dan kesahajaan. Ketegasan terhadap hal-hal yang meragukan danskeptis. Ketegasan terhadap larangan Allah. Ketegasan terhadap hal-hal yangmenggalaukan jiwa kita.  Nabi SAW bersabda :
دع مايريبك إلى ما لا يريبك
“Tinggalkan hal-hal yangmeragukan, menuju hal yang pasti.”
Karena ituWara’ sesungguhnya menjadi benteng manusia modern. Karena dengan Wara’ manusia modern akan memiliki kekuatanjiwa yang luar biasa, antara lain:
  • Wara’menumbuhkan kesatriaan, kejujuran, kesahajaan, kesederhanaan, dan sikap sosialyang positip.
  • Wara’menjauhkan sikap berlebihan, egoisme, kesombongan, dan ambisi materi.
  • Wara’mendorong manusia untuk menjadi hamba yang merdeka dari kepentingan-kepentinganselain Allah, karena hakikat Wara’ adalah sikap waspada terhadap segala halselain Allah.
  • Wara’menghantar kita untuk tulus dan ikhlas dalam beramal hanya untuk Allah. Karenatanpa wara’, ubudiyah kita akan terseret pada hal-hal yang menyimpang, dan jauhdari keikhlasan.
  • Wara’menghilangkan sikap kepura-puraan kita, basa basi kita, penipuan-penipuan kita,kemunafikan kita, kefasikan kita, dan membebaskan diri kita dari penjara nafsukita.
  • Wara’adalah awal dari ketaqwaan kita.
  • Wara’akan menghantar kita terus menerus memandang Allah dalam setiap hal-hal yanghalal. Karena itulah Wara’ akan mendorong kita untuk terus bersyukur, sebabdibalik yang kita pandang, ada Nama Allah di sana.
  • Wara’adalah nuansa majlis Ilahi. Karenanya Abu Hurairah mengatakan,”Orang-orang yang berada di majlis Allah kelak, adalah ahli wara’ danZuhud.”
  • Wara’membuat manusia tidak dzalim, karena ia senantiasa berbuat adil, proporsional,dan wajar.
  • Wara’menjauhkan kita dari KKN.
Rasulullahsaw uswah hasanah sikap wara’ terbaik bagi seorang Imam. Beliau dan keluarganyaterlarang menerima sedekah. Dan, meski diperbolehkan menerima hadiah, tetapisetiap hadiah yang diterimanya selalu segera disalurkan (disedekahkan) kepadarakyatnya. Pernah beliau selesai sholat buru-buru bangkit dan masuk rumah,karena ternyata beliau masih menyimpan emas (hadiah) yang belum disalurkankepada fakir miskin. Sampai meninggal beliau hanya meninggalkan kekayaan berupatempat tidur (kasur) yang terbuat dari jerami, dan sehelai kain selimut. Dalampenegakan hukum beliau berkomitmen : “Seandainya Fatimah binti Muhammadmencuri, maka aku sendiri yang akan melaksanakan hukumannya dengan memotongtangannya”.
Khalifah Umar bin Kathab, ketika memualai tugasnyasebagai kepala negara, setiap pagi buta beliau telah memikul barang dagangannyake pasar. Ketika seorang sahabatnya menanyakan mengapa khalifah masih berdagangdi pasar, beliau menjawab :”Aku tidak akan memberi makan anak dankeluargaku dengan mengambil harta negara yang aku kuasai”. (setelahperistiwa itu, barulah terpikirkan gaji khalifah dari baitul maal, agarkhalifah lebih berkonsentrasi menajalankan tugasnya).
Khalifah Umar bin Khathab dituntut oleh seorang rakyatnyauntuk dapat menjelaskan (pembuktian terbalik) dari mana dia peroleh kain untukmembuat gamisnya yang besar, padahal kain yang dibagikan kepada warga ukurannyasangat tidak mencukupi untuk gamis sang khalifah yang tinggi besar. KhalifahUmar bin Abdul Aziz adalah Imam dan presiden yang Wara’, karena itu ia tidakmau menyalakan lampu milik Negara, ketika seorang berbicara dengannya di luarurusan Negara
FenomenaWara’ di abad ini, ibarat benda di tengah keterasingan gurun yang gersang.Benda aneh, karena manusia modern justru nestapa dengan kemodernannya, hanyakarena manjauhi kewara’an sehari-hari. Lalu individu-individunya mengabaikanmoralitas, keluarganya berantakan, tatanan sosialnya hancur, hukum direkayasa, keadilan dirobohkan, kekuasaan dijadikanberhala. Itulah kewara’an yang terlempar di kesunyian manusia modern.
Untuk menjadi Imam yang Wara’ sekarang ini (hampir) menjadi hal yang mustahil. Di erademokrasi-kapitalisme ini, untuk menjadi Lurah, menjadi anggota Legislatif, Bupati, Gubernur dia harus mengeluarkan modal sampai ratusan juta bnahkan milyaran rupiah.  Maka, (bisa dipastikan) selama menjadi Imam ia harus’kerja ekstra keras’ untuk kembali modal. Seorang Imam harus berlepotandengan hal-hal yang syubhat (bahkan mungkin yang haram). Akibatnya, sekarangini telah ada 16 dari 33 Gubernur berstatus tersangka.
Seorang Imam yang saat kampanye menyatakan akan memimpinsendiri pemberantasan korupsi (seperti komitmen Rasulullah saw), makadalam prakteknya dia loyo, karena  tersandera oleh para penanam modal yangtelah mendukungnya menjadi Imam. Para mafioso sesungguhnya yang tengahberkuasa.
Berhala’materialisme’ telah menjadikan seorang Imam sulit bersikap Wara’, dan bahkanbanyak Ulama yang sikap Wara’ nya telah terbeli dan tergadai. Bersambung (Insya Allah)
Penulis H. Untung Santoso (Wakil Ketua PDM Gunungkidul)


sumber : mentarinews.co.id
Share this article :

Posting Komentar