Peringkat berikutnya dalam memilihseorang Imam adalah yang lebih tua usianya. Dengan pertimbangan bahwaorang yang lebih tua umumnya lebih khusyu` dalam shalatnya.Selain itu memang ada dasar hadits berikut:
فَلْيَؤُمَّهُمْأَكْبَرُهُمْ سِنًّا
” Hendaklah yang lebihtua diantara kalian berdua yang menjadi imam ” (HR. Imam yangenam).
Substansi syarat senioritas bagi seorang imam di sini bukan semata pada umur, tetapi pada sikap khusyu’, yang terlihat jelas rekam jejaknya seorang yang memiliki sikap integritas. Imam adalah orang pilihan dengan berbagai kelebihan. Salah satu kelebihannya ialah memiliki integritas yang tinggi.
Integritas berkaitan dengan moralitas. Di antaranya, jujur (shidiq – amanah) dan konsisten (istiqomah). Jujur saja tetapi mencla-mencle, plinplan, bukan pemimpin berintegritas. Konsisten doang, tanpa kejujuran, pun bukan pemimpin berintegritas. Sebab ada yang konsisten berbohong.
Pemimpinyang berintegritas adalah pemimpin yang Istiqomah ( jejegimane-cetho tujuane). Jejeg imane bermakna kokohnya prinsip idealisme moralitas dan kebenaran (shidiq dan amanah), sedangkan cetho tujuane menunjukkan visi, misi dan aksi yang jelas untuk membawa kesejahteraan makmum (tabligh dan fathonah). Imam (pemimpin) berintegritas adalah Imam yang telah selesai dengan dirinya, telah selesai dengan semua kepentingan sempit. Ia mampu menyatukan perkataandan perbuatan demi sebesar-besarnya kepentingan hajat hidup makmumnya. Suatu masalah yang tengah dihadapi oleh para Imam (pemimpin) sekarang ini adalah Krisis Integritas …. Bersambung (Insya Allah)


Posting Komentar