Ada hal yang sangat menarik dalam pemilihan seorang imam dalam shalat. Biasanya orang akan mempersilahkan saudaranya untuk menjadi imam. Mereka beranggapan bahwa saudaranya lebih baik darinya sehingga mempersilahkan saudaranya untuk menjadi imam.
Tuan rumah memberi penghormatan kepada tamunya untuk menjadi Imam, tetapi si Tamu tahu diri bahwa tuan rumahlah yang lebih berhak menjadi Imam.
Terlepas apakah ada alasan lain atau tidak, paling tidak ada nilai yang sangat baik yang ditunjukkan dalam pemilihan imam ini. Berbeda dengan keadaan kita sekarang yang malah berebut kekuasaan, Setiap kandidat imam selalu merasa paling baik, paling mampu, paling pantas dan sejumlah klaim yang lain.
Pemilihan imam, mulai dari dukuh, lurah, sampai presiden selalu diwarnai dengan kampanye yang tak ubahnya seperti ‘jualan kecap’ yang selalu nomor 1.
Setiap pemilihan imam selalu dihiasi dengan slogan-slogan bombastis : “TERUS BERJUANG UNTUK RAKYAT”, …. “PRESIDEN PILIHAN RAKYAT”… ” BERSAMA SAYA RAKYAT SEJAHTERA” … “AKU RAPOPO … ” dst. tidak lebih hanya sebuah ilusi, yang (setelah terpilih) akan jauh dari kenyataan.
Bahkan tidak cukup hanya dengan propaganda kecap, seringkali antar kandidat saling mengecam, memaki, memfitnah (black campaign dan negative campaign).
Semestinya kita memang harus merasa ada orang lain yang lebih baik dari kita untuk menjadi pemimpin dan merelakan ego kita. Sehingga terciptalah keadaan harmonis dalam pemerintahan yang tercipta karena perasaan saling memahami. Kalau “terpaksa” kita menerima amanah sebagai Imam, tetap tawadhu dan tidak merasa diri paling baik.
Abu Bakar Ash-Shidiq sesaat setelah diba’iat sebagai Khalifah menggantikan Rasulullah saw, beliau mengucapkan pidatonya yang sangat terkenal : “Saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, maka kalau engkau melihat aku berada di jalan yang salah ingatkan aku, dan apabila aku berada di jalan yang benar bantulah aku”. Pernyataan tulus Abu Bakar ini menunjukkan sikap kerendah hatian seorang khalifah. Kearifan dan kerendah-hatian seorang Imam sekarang ini sudah sangat langka. Kebanyakan seorang imam setelah berkuasa dia cenderung bersikap arogan. Merasa dirinya paling benar, merasa dirinya paling baik… sehingga sulit sekali menerima kritik, Hal ini diperparah oleh orang-orang disekeliling imam yang mempunyai sifat penjilat.
Maka, ketika sang imam dikritik sebagai pembohong, orang-orang di sekeliling imam bereaksi keras dan menyeranng balik si pengkritik.
Pada sistem demokrasi kita sekarang ini, di mana kekuasaan berada pada tangan rakyat, mungkinkah rakyat dapat menyerahkan amanah kekuasaan itu kepada imam yang ikhlas, tawadhu’ dan rendah hati seperti Abu Bakar ash-Shidiq?
Penulis:
H.Untung Santosa, SE.,MA. (Wakil Ketua PD Muhammadiyah Gunungkidul)


Posting Komentar